Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 April 2014

Surat Kecil untuk Calon Istri (1)

Dear calon istriku sayang..

Duhai calon istriku...malam ini aku tulis sepucuk surat untukmu. Kalau suatu saat nanti adinda membacanya tak usahlah menanyakan isi surat ini kepadaku.

Calon istriku sayang,,,masa laluku sungguhlah sangat kelam. Saya yang banyak orang katakan termasuk yang agamis bukanlah benar apa adanya. Saya sungguh hina dari pengemis yang mungkin adinda sering lihat di perempatan jalan. Mungkin saja aku tak lebih mulia dari seekor anjing yang hanya bertugas menjaga rumah majikannya. Mungkin dan mungkin saja saya lah orang paling hina yang sedang adinda kenal saat ini.

Maafkan saya calon istriku sayang..Tak usahlah adinda berpikir lebih tentang saya. Tempuhlah hidup adinda sebaik agama kita mengajarkan moral. Hargai dan sayangi diri adinda. Jauhkanlah tubuh adinda dari lubang kenistaan. Jaga baik-baik adinda..aku percaya engkau mampu menjaga kehormatan. Demi kita dan anak-anak kita suatu saat nanti.

Calon istriku sayang...bolehkah saya mengaharapkan sesuatu pada Allah?? Memperoleh jodoh yang solehah. Solehah yang bukan hanya namanya saja. Solehah yang bukan penampilannya saja. Tapi solehah lahir bathin yang sesuai agama kita.

Hatiku bukanlah terkawal oleh Malaikat. Sepanjang hidup ini aku belum bisa menjadi seorang soleh yang mungkin juga adinda harapkan padaku. Tapi,, jikalau adinda berkenan...ajarkanlah bagaimana caraku menjadi soleh?? Apakah adinda berharap aku bersorban?? Apa adinda inginkan aku memakai baju koko setiap harinya?? Semoga saja apa adanya diriku sekarang adalah yang adinda inginkan dalam hati

                                                                                                        Semarang, 25 April 2014. 22:52
         

Menyongsong Cahaya



Ya Allah, baru saja aku membaca aduannya. Entah kepada siapa dia mengadu. Aku tak tahu yang dia rasakan. Aku harap kepada Mu lah dia mengadu.

Sungguh bahagia hati ini, ketika amalan wajib yang Engkau perintahkan mulai menguasaiku. Tiada nikmat yang lebih besar kecuali iman dan taqwa. Mungkin untaian kata hikmah itu yang tepat untuk menggambarkan suasana hatiku sekarang.

Hidup di dunia, kami tahu bukanlah hal yang mudah. Kami harus melawan dan mengalahkan khannas. Yah, khannas yang aku tahu adalah iblis yang berada dalam tubuhku. Dia berada dalam aliran darahku. Aku tak mampu untuk melihatnya, meraba, mencium, mendengar, atau bahkan sekedar tahu dimana dia saat ini berada. Hanya saja kehadirannya dalam tubuhku selalu membuat Mu murka.

Ya Allah, pantaskah jika kami menyalahkan iblis?? Pantaskah kami menghujat iblis?? Entahlah, dia yang merupakan makhluk Mu yang terkutuk terkadang tak sejahat yang kami kira. Ahh!! bukan itu yang seharusnya kami ucapkan.

Seburuk apapun nasibku malam ini, tetaplah saya merasa bahagia. Karena aku telah diberi kesempatan oleh Nya untuk sekedar menebus dosa-dosaku yang lalu. Biarlah orang berkata apa. Kasian, empati, atau apalah terhadap apa..aku tetap akan melangkah menyongsong cahaya. Meskipun itu sendirian :) :)

Kamis, 24 April 2014

Hobi Kecilku

Waktu itu sudah berlalu lama, sekitar tujuhbelas tahun yang lalu. Seekor kelelawar sedang asik mencari jambu. Atau mungkin dia hendak menggerogoti mangga tetanggaku yang mulai masak. Entahlah, sejak tadi kelelawar itu berputar-putar. Sepertinya dia lapar. Kasian sekali...dia harus mencari makan di saat malam mulai datang. Tanpa cahaya.

Aku juga mendengar suara seekor jangkrik. Krik..krikk..krikkk...kira-kira begitulah suara yang sering kudengar dari depan rumah. Memang, banyak sekali rumput liar yang tumbuh. Mungkin saja ada hewan selain jangkrik yang tinggal di situ.

Waktu itu aju masih belajar di RA Miftahul Huda. Yah,, setingkat TK gampangannya. Maish ingat sekali bagaimana aku kecil sering mengkhayal. Ku tatap langit malam, maka kulihat bintang bertaburan. Imajinasiku mulai bermain. Seandainya aku naik pesawat tentu bintang-bintang itu mampu ku gapai.

Aku kecil sering memandang langit malam. Seringkali aku menghitung jumlah pesawat yang lewat di langit malamku. Terlihat kecil memang, seolah pesawat itu adalah bintang berjalan dengan cahaya merah yang berkedip. Aku suka sekali dengan langit malam.

Pernah aku mengamati langit malam dan menghitung jumlah pesawat yang melintas langit malamku. Kira-kira setiap 15 menit kupastikan ada pesawat yang lewat. Terkadang pesawat itu datang dari arah Timur, Barat, Utara, Timur, dan semua arah mata angin dah. Pernah juga aku melihat pesawat-pesawat itu berpapasan. Seolah hendak bertabrakan. Itu saat paling seru ketika aku mengamati pesawat di langit malamku.

Aku juga sering menghitung jumlah bintang di langit. Saat paling kusuka adalah ketika aku tiduran di papan bambu yang hampir tiap rumah di desaku punya dan ditempatkan di teras. Mungkin dulu aku sering membayangkan melihat langit malam dengan teropong. Dan barulah ketika aku kuliah semua itu nyata. Karena jujur, waktu itu masih sangat primitif.

Aku sedang merindukan masa kecilku. Ketika bapak menggendongku dan menunjukkan bintang berjalan. Tapi sayang, kini beliau sedang beranjak tua. Atau lebih tepatnya aku yang sedang tumbuh dewasa. Pernah ketika tengah malam beliau mengajakku keluar rumah hanya untuk melihat lintang kukus. Aku paling penasaran dengan yang namanya lintang kukus. Dan ketika aku semakin pintar baru kusadari jika lintang kukus itu adalah komet. Kaya nama tetanggaku. hahahahhhhh

Mungkin suatu saat nanti hobi kecilku akan kuulang. Yah, mungkin saja Allah akan memberikan taqdir Nya supaya aku bisa menikmati indahnya langit malam bersama orang-orang tersayang. Teman, sahabat, atau mungkin istri dan anakku kelak. Insya Allah..

Dan aku harus menjadi lebih baik, karena masa kecil aku adalah orang yang tak berdosa sama sekali. Maafkan saya ya Allah...sungguh saya ini brengsek dan mungkinkah Engkau meridloi hamba menjadi pemuda soleh?? seperti doa kedua orangtuaku.






Dimana Hidayah???

Seringkali kami merasa bodoh
Sering pula kami merasa pinter
Bodoh dan pinter yang kami rasakan hanyalah perasaan semu
Hanya saja, bodoh dan pinter yang kami rasakan bener-bener nyata

Aish..!!! saat ini Iblis dan Malaikat sedang bertarung
Yah, di tempat paling mulia dalam tubuhku
Atau mungkin itu hanyalah pikiranku???

Entahlah kawan, kami bener-bener tak mampu membedakannya
Kami juga tak tahu, manakah yang Malaikat perjuangkan??
Mungkinkah kebodohanku??
atau kepintaranku??

Kami juga tak tahu tentang Iblis
Sama sekali tak tahu
Semua tentang metafisik tubuh kami

Mungkin hanya yang bernama hidayah
Akan menjawab kegundahan ini
Tapi, dimanakah dia??
Entahlah

Sabtu, 12 April 2014

Sahabat HATI




Hai malam…apa kabar? Kutahu kamu sedang bersedih. Atau mungkin lebih tepatnya gundah gulana. 12 April langit Semarang mendung. Gerimis sempat membasahi aspal tempat roda dua kami berjalan. Ah,,mungkin sudah nasibnya atau mungkin lebih tepatnya itu adalah skenario Allah.
Malam ini langit tak secerah yang kuharapkan. Gampang saja, aku mengharapkan gugusan bintang bertebaran di langit malam Semarang karena ada perlunya. Singkat kata, aku tadi habis mengikuti agenda sebuah komunitas pecinta semesta di Semarang. Namun sayang, mendung. Cuma beberapa saat saja aku bisa meneropong Bulan yang hampir purnama dengan menggunakan teleskop Celestron 80 EQ. tak Cuma itu si,, cukup puas karena bisa mengamati planet Mars. Yah, aku liat dia berwajah merah. Mungkin Mars lagi malu wkwkwkwk

Masalahnya buka itu kawan, entah kenapa hatiku gundah. Seolah merindukan seseorang. Apa mungkin aku sedang naksir orang? yah, mungkin saja. Dia adalah seorang koordinator  komunitas kami. Hahah..mungkin saja itu salah satu hal yang gila. gak level lah dia sama aku. Tapi bagiku cuekk aja ah, wkwkwk
Gundah gulana alias galau cetar membahana. Itu adalah kata-kata temanku hhe..yang sekarang ini sedang saya rasakan. Siapa yang aku risaukan? Hatiku sedang memberontakkah? Apa hatiku sedang berpikir ulang tentang ‘majikannya’?? entahlah, aku tak tau kawan, seolah aku merindukan seseorang. Yang jadi masalahnya adalah aku baru saja ketemu ‘tuh’ orang. Sekejap saja memang. Dan mungkin karena saking singkatnya hatiku memberontak. Begitukah??? Entahlah.. aku hanya bisa ngeles pada diriku sendiri. Aku sedang merindukan sosok sahabat yang dulu pernah ada di hati. Sayangnya aku telah mengecewakannya. Memang si..dia tak menunjukkan kekecewaannya. Hanya saja aku akan merasa nggak enak ketika menyapanya, sedang aku dalam keadaan ‘butuh’ untuk menyapanya.

Doaku, semoga dia baik-baik saja di kota Pahlawan. Dan tentu kami akan bertemu kembali. Seperti dahulu, ketika aku rela buang duit, buang tenaga, buang kepercayaan hanya demi menepati janji untuk ketemu dengannya. Di Surabaya. See u sahabat..kamu tetap di sini à HATI.

Jumat, 11 April 2014

Karena Saya Harus Menjadi Lebih Baik

Hai kawan, saya pingin keluarin unek-unek nih..hhe
Biasa lah nyampah. Buat kamu yang gak suka sifat alay-lebay-kemayu dan saudara-saudara mereka mending gak usah dibaca postingan ini. terimakasih J

Begini . . . kok rasanya saya pingin nulis rasa syukur yang ada di hati. Entahlah, gak jelas banget maksudnya. Wkwkwkwk
Allah, Tuhanku itu Maha Penyayang sama aku. Tau kenapa???? Sebenernya tergantung kita sih bagaimana menyikapi hidup ini. Tiap orang pasti ada masalah kan??? Masing-masing kita pasti punya beban. Hah..dasar emang kita aja yang bego alias tolol jika ngeluuuuuh terus. Pernah gak, sekali dua kali kita mencoba berpikir positif?
Sebenarnya tiada yang sulit buat kita ngadepin hidup ini. Saat merasa dunia gelap gulita alias kita sulit buat tersenyum, cobalah tersenyum. Gitu aja sih caranya biar kamu bisa tersenyum manis kembali, kayak saya J J J
Saya pernah mengalami, beberapa bulan saya seolah terpuruk. Tertikam oleh beban dunia. Semua itu karena pada dasarnya saya nggak suka dikasih beban. Saya lebih suka jadi follower daripada leader. Biarlah, orang berkata apa tentang masalah kepemimpinan saya. Yang penting bagi saya adalah bahagia. Bahagia bagi seorang introvet sepertiku adalah ketika sifat introvert ku terkalahlan. Hahahah..emang gak enak banget jadi orang introvert L L

Okkey..kembali ke awal, saya terpuruk, tertikam, dan terkekang hanya karena saya pingin dunia. Sebut saja karena terbayang oleh kehidupan yang lebih baek, alias bisa hura-hura. Hho (padahal saya itu anti hura-hura lhooh). Hura-hura yang saya maksud adalah ketika kamu meletakkan urusan dunia di atas akheratmu. Wuisshh saya sedikit gaya nggak papa kan..hhah!!

Begini kawan, hubungannya sama potive thinking tentang hura-hura yang saya maksud adalah bahwaaaa ketika kita sekali dua kali terjebak dalam kubangan setan, yah pastilah sulit banget untuk tobat, alias berhenti total. Misalnya gini, dahulu saya nggak pernah boloz sekolah. Sampe kuliah pun gak pernah absen satu semester. Rajin kan saya J J. Namun…pernah, ketika itu adalah hari senin..saya boloz kuliah karena sesuatu yang tak penting. Bahkan saya menyebutnya hal yang brengsek. Yah..nurutin kemauan cewek saya ketika itu (tetapi sekarang udah putuz kok). Rasanya itu nyeseeeeel banget, siapa yang mau saya salahkan?? Masak cewek saya ketika itu? Jelas itu salah saya sendiri. Seharusnya saya ingat akan amanah orangtua dan keluarga di rumah buat kuliah, hikz L L

Sekali itu saya boloz kuliah hanya karena alasan yang brengsek, selanjutya ya brengsek lagi. Saya pernah kalo gak salah 2 atau 3 kali yah boloz kuliah setelah itu. Memang, hati nurani memberontak terhadap apa yang saya lakuin. Setidaknya dia bilang begini kawan, “Dasar brengsek, lanjutin terus kenakalanmu sampai suatu saat orangtua mu menangis karenamu!”
Huh,, bener2 nuraniku menangis. Sayangnya tidak buat mata sipitku ini. Dia hanya tertawa lirih menikmati kenakalanku.

Dan ini itu yang saya alami, berat banget bangun dari kubangan. Tapiiii..nurani saya masih diberi hidayah oleh Allah, yah Tuhanku yang Maha Penyayang. Nuraniku selalu berkata, suatu saat nanti kita pasti bisa hentikan kebrengsekan ini. Itu juga yang menyebabkan saya selalu berpikir positif. Berpikir positif bagiku adalah menyambungkan hati dan pikiran pada kekuasaan Allah. Yakinlah kawan, bahwa Allah selalu menghendaki kebaikan bagi kita. Itu yang selalu saya tanamkan pada diriku.

Dan sekarang, saya bisa bersujud. Bersyukur atas hidayah serta kekuatan yang diberikannya kepadaku. Saya bahagia, mendapatkan kesempatan buat memperbaiki diri.
Allahu ya Kariiim…tolong bantu saya menjaga hati, memperkuat imanku hanya kepada MU. Sampaikan salamku pada orangtua. Saya mohon maaf telah mengecewakan MU dan juga keluarga di rumah. Ampuni saya, karena saya harus menjadi lebih baik, demi diriku senidiri, keluarga, bangsa, agama, dan tentunya pendamping sholehah yang saya impikan J J. Amiiiiin…


Dwi temenku

Kaptenz Dwi Lestari. Namanya gaol yah..dia adalah temanku. Bukan sekampus sama saya, tetapi masih satu kota. Adek tingkat, persis di bawah saya. Koordinator sebuah komunitas pecinta semesta di Semarang. Kayaknya rumahnya Pekalongan (soalnya saya belum paham betul tentang dia hhe).

Kagum sekali dengan semangat cewek ini. Kecintaannya kepada Astronomi sangat besar, sampe-sampe saya ngiri. Masalahnya begini, dia kuliahnya ngambil jurusan Fisika murni, sedangkan saya Ilmu Falak, alias Astronomi Islam. Seharusnya saya yang lebih besar ghirohnya terhadap Astronomi. Sayangnya bukan begitu faktanya. Wkwkwkwk walau sebenarnya saya juga sangat mencintai ilmu semesta. Karena bagiku pribadi keindahan serta rahasia di balik semesta bisa mendekatkan kita terhadap sang Khaliq. Selain itu, belajar tentang semesta sangat menarik karena imajinasi kita melayang-layang ke luar angkasa. Yuhuuuuuuuuuii… jadi inget ketika naek elang dulu J J

Jadi ceritanya begini kawan, dulu ketika kecil aku sering bermaen, diantarnya naek elang, yah terbang ke angkasa. Menembus awan putih yang bergumul. Aku duduk dipunggung elang itu sambil ketawa riang menyaksikan pemandangan yang begitu indah di jagat raya ini. Terkadang elang itu hendak menabrak bukit. Tapi, dia terlalu piawai hanya untuk berputar-putar di angkasa. Ya…gak jadi nabrak deh… malah tambah seru, dia belok diantara bukit-bukit yang terjal itu. Aku hamper jatuh, tapi gak pernah jatuh. Karena itu hanyalah imajinasiku ketika aku masih kecil. Sekitar dua belas tahun yang lalu. Hehehehe…..

Okkey,,kita kembali ke temaku ini. Saya takut kehilangan orang seperti dia. Hemm..masih trauma sih ketika saya ditinggal teman wkwkwk. Dulu ketika kelas 1 Aliyah saya dekat dengan seorang santri RMA, Burhan namanya. Saking deketnya saya mendapat pelajaran pribadi darinya. Dia tujuh tahun lebih tua dariku, tapi aku sangat nyaman bersamanya. Karena bersamanya aku menjadi lebih baek. Aku tau tentang maksud Aqa’id, ilmu yg bermanfaat, cerita keislaman, mkhorijul huruf. Yang semua itu aku selalu gk pede ketika beradu argmen dengan orang laen. Karena jujur,, 5 tahun belajar di pesantren sebelum itu aku hanya tau tentang fiqh dan sedikit nahwu hhe..

Nah, puncaknya pas habis lebaran tuh..aku masih kelas 1 Aliyah. Dia boyong dari RMA tanpa aku tahu. Yah,,walaupun saya masih unyu saat itu terasa banget kehilangan seorang teman yang sudah kuanggap sebagai sahabat serta guru. Saya aja nangis, hhaahaa…yah gak ada yang tau sih ketika itu. Salam ta’dzim buat panjenengan mas Burhan, semoga berkah ilmu kita. Amiiin . . . J J
Balik lagi sama Dwi yah, harapanku dia bisa menjadi teman baik buat aku. Karena semenjak mengenalnya sedikit lebih jauh, saya jadi terpacu mempelajari Falak. Semoga semuanya akan baek-baek kawan..


Berpikirlah

Kawan, bukalah pikiranmu. Lihatlah sekelilingmu. Lihatlah katak itu. Lihat, lihat, dan lihatlah katak dalam tempurung.
Sungguh sayangi dirimu kawan..tak usahlah kau menangis. Meratapi kebodohanmu. Semua tak akan berubah secara instan. Belajar belajar dan belajarlah. Belajarlah yang kamu suka. Asal masih dalam koridor halal agama kita. Tak usahlah kau pikir jadi apa kau nanti. Pinter pinter dan pinterkan dirimu sendiri, suatu saat kau akan memetik buat kepinteran. Manis manis dan manis sekali buah itu. Aku pernah merasakannya. Hanya saja aku lupa bagaimana rasanya buah itu.

Kawan., agamamu menyuruh berpikir. Yah, berpikir tentang ciptaan NYA. bukankah kau suka memikirkan sesuatu?? 

Pandai Bersyukur

Kawan, hidup dalam keterbatasan itu menjengkelkan. Bawaannya pinigin teriak BRENGSEK!!!
Meraih impian ataupun cita-cita tak hanya modal otak. Kita butuh dana, alias duit. Mungkin itu yang kurasakan. Pemikiran sempit dari seorang introvet.
Hanya satu dua kali saya berpikir positif, selebihnya busyeeeett. Ngeluuuh terus. Padahal sesungguhnya saya tahu jika ngeluh bukan solusi. Ngeluh hanya akan memperburuk keadaan. Setidaknya semua yang sedang kita alami tak akan berubah lebih baek.
Hemmm,, atau hanya menunggu?? Aku pikir menunggu masalah selesai sama aja tak akan mengurangi masalah. Setidaknya otakmu akan penuh dengan pikiran negatip. Misalnya saja, minder.
Ya Allah..maafkanlah saya. Bimbing hamba menjadi sosok yang pandai bersyukur.