Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 April 2014

Menebus Mimpi

Judul Buku      : Running for Hope
Penulis             : Dona Sikoembang
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Februari 2013
Tebal               : viii + 236 halaman
ISBN               :978-602-7888-15-9

ketika kenyataan hidup tidak lah sama dengan harapan, perjuangan adalah satu-satunya upaya untuk merubah semuanya. Begitulah yang akan ditampilkan dari sosok Monna dalam novel Running for Hope karya Dona Sikoembang.

Kemiskinan bukanlah suatu halangan menggapai cita-cita. Bagi Monna yang baru saja dinyatakan lulus dari SMA bertaraf internasional begitu yakin bahwa dirinya mampu duduk di bangku kuliah Universitas Indonesia. Keinginan mengubah keadaan ekonomi keluarganya serta gelar Sarjana Hukum membuat Monna semakin keras kepala. Namun, dari mana kedua orang tuanya mendanainya, bahkan untuk sekedar ikut tes saja tak ada yang bisa diberikan. Penghasilan ayahnya sebagai tukang ojek dan ibunya sebagai buruh jahit masih kurang untuk menghidupi keempat anak perempuannya.

Sesaat, angin segar menghampiri Monna. Rani, teman SMAnya menawarkan gratis sebuah formulir UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Rani terlanjur membelinya dan dia berhasil mendapatkan beasiswa di Perguruan Tinggi. Jadi, daripada formulir tersebut terbuang sia-sia lebih baik Monna yang menggunakan kesempatan langka ini baginya (hlm. 21-22)

Selama ini Monna berpikir bahwa kebahagiaan keluarganya akan mampu dia ciptakan dengan kehidupan ekonomi yang layak. Semua salah, saat mengikuti UMPTN Monna tinggal beberapa hari di rumah Rani yang sangat mewah. Semua serba kecukupan. Namun apa yang dia rasakan, perlakuan orang tua Rani yang jauh berbada dengan keluarganya terhadap tamu menyadarkan Monna akan sebuah kebahagiaan sejati. Monna tidak melihat adanya keharmonisan dalam keluarga Rani. Sungguh menyesal baginya atas sikap keras kepalanya terhadap orangtuanya untuk tidak mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi. Baginya, kemiskinan atau kekayaan itu tidak dilihat dari harta benda, tetapi ternilai dari kebahagiaan serta kepuasan nurani.
Meskipun Monna gagal masuk kampus impiannya, baginya sebuah cita-cita dan mimpi akan tetap hidup. Dia yakin, suatu saat nanti akan duduk di bangku Universitas Indonesia. Tuhan punya berjuta cara untuk membuat makhluknya mengerti akan alasan setiap hal yang terjadi.

Kehidupan serba kekurangan membuatnya harus bekerja meringankan beban orangtua. Berbagai kerjaan mulai dia coba. Ketika itu dia pernah menjadi seorang penyiar radio swasta yang sedang berkembang di kotanya. Pernah juga menjadi seorang pramuniaga, hingga penjaga toko bahan material. Keuletannya merupakan salah satu modal mencapai sukses.

Dilema orang kecil yang sulit mendapatkan keadilan tak sedikit dia rasakan. Berbagai bentuk penipuan di tempat kerjanya merupakan rangkaian pengalaman pahit dalam hidupnya. Sebagai penyiar radio, dia tidak pernah digaji selama lima bulan. Sebagai pramuniaga, keterlambatan lima menit membuat gajinya berkurang dua puluh lima persen. Begitu pula ketika bekerja sebagai “sekretaris, manajer, dan akuntan” sebuah toko bahan material, dia merasakan tiada lagi kepercayaan dari pemilik toko kepada dirinya.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Berbagai musibah yang terjadi terhadap dirinya dan keluarganya sejatinya semakin membakar semangat untuk kokoh berdiri. Kios kakaknya yang terbakar membuat dia dan semua keluarganya terpukul. Saat itulah Monna kembali mengenakan hijab seperti masa sekolah. Dia menyesal karena melepasnya setelah tamat SMA. Sebuah seruan kuat berasal dari lubuk hatinya terdalam dan senantiasa menuntutnya untuk menunaikannya(hlm. 121-122).

Kegilaan Monna terhadap setiap aroma pendidikan tetap diperankan dengan baik. Dengan setia dia mendampingi adik bungsunya, Upi, dalam pendidikannya. Dia berhasil membimbing Upi memasuki sekolah berstandar internasional di kota. Monna mengubur semua impiannya untuk kuliah, dan sekarang meletakkan harapan yang sungguh besar pada masa depan Upi.

Semangat Monna yang kuat tergambar di dalam diri Upi untuk menggapai cita-citanya. Monna bertekad, kesenduan yang dulunya dirasakan dirinya tidak boleh terulang pada Upi. Monna selalu mendukung setiap keputusan yang diambil oleh Upi tanpa harus memaksanya menajdi pengacara yang bergelar Sarjana Hukum seperti mimpinya dahulu.

Singkat cerita, Upi diterima sebagai calon mahasiswa jurusan terfavorit di Institut Pertanian Bogor, departemen Teknologi Pangan, fakultas impiannya. Dia lah Upi, sang adik yang akan menjadi seorang sarjana dan gelar pertama dalam rentetan panjang sejarah keluarga Monna. Sejatinya, Upi telah menebus mimipi Monna yang pernah menguap kembali menjadi realita (hlm. 160-162).

Dan tidak hanya itu, kerja keras Monna selama ini benar-banar mampu menebus mimipinya. Dia bukan lagi seorang penjaga toko material. Dia adalah salah satu penggerak dan penggiat pendidikan bagi kaum-kaum terabaikan. Seperti mimpinya, dia mampu berada di salah satu ruang auditorium Universitas Indonesia. Bukan sebagai mahasiswa, melainkan pemberi ceramah atas undangan mereka. Begitu pula Upi, dia akan segera mendapatkan gelar masterdari Yale University, Amerika Serikat, kampus yang menjadi impian berikutnya ketika masih berkuliah di IPB. Semua diraih dengan cara yang sama, yaitu beasiswa.

Novel setebal 235 halaman ini sangat inspiratif. Menggambarkan sosok yang tiada berhenti menemukan arti keberhasilan. Dengan tata bahasa yang apik dan alurnya yang simpel, novel ini sangat menggugah. Satu pesan yang diberikan penulis adalah janganlah kau abaikan mimpimu, karena mimpi-mimpimu adalah kunci kesuksesanmu.






Penciptaan Manusia Pertama menurut Al-Qur’an dan Sains

Judul Buku      : Benarkah Adam Manusia Pertama?: Interpretasi Baru Ras Adam Menurut Al-Qur’an dan Sains
Penulis             : Ir. Agus Haryo Sudarmojo
Penerbit           : Bunyan (PT Bentang Pustaka)
Cetakan           : Pertama, Maret 2013
Tebal               : xviii + 226 halaman
ISBN               : 978-602-7888-17-3

Kajian sains terhadap ayat-ayat suci Al-Qur’an nampak semakin intens dilakukan oleh para pakar. Tak terkecuali perihal kreasi manusia pertama di Bumi. Benarkah sebelum Adam diciptakan terdapat makhluk lain seperti manusia? Bagaimana mekanisme penciptaan Adam? Apakah Adam dilahirkan?

Buku berjudul Benarkah Adam Manusia Pertama?: Interpretasi Baru Ras Adam Menurut Al-Qur’an dan Sains dibuat untuk menjawab problematika misteri ras Adam. Agus Haryo Sudarmojo mengukuhkan bahwa penjelasan Al-Qur’an selalu selangkah lebih maju dari penemuan-penemuan sains modern. Dalam  buku ini kita akan menemukan kesimpulan yang mencengangkan terkait ras Adam.

Haryo Sudarmojo mengawali pembahasan dalam buku ini dengan memaparkan keruntuhan teori evolusi Darwin. Sebuah teori buah filsafat materialistik yang muncul bebarengan kebangkitan filsafat materialistik kuno yang tersebar luas pada abad ke-19. Materialisme menjelaskan alam semesta melalui faktor-faktor materi serta menafikan penciptaan. Semua peristiwa terjadi secara kebetulan.

Darwin yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang biologi menyatakan bahwa asal-usul kehidupan dan spesies berdasar pada konsep “adaptasi terhadap lingkungan “. Menurutnya, aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan terpisah oleh Tuhan. Semua berasal dari satu nenek moyang dan menjadi berbeda karena kondisi alam, dan manusia adalah hasil paling maju dari mekanisme ini (hlm 2).

Haryo Sudarmojo menjelaskan bahwa teori evolusi Darwin tak mampu menjawab pelbagai pertanyaan dasar penciptaan. Bagaimana sel hidup pertama muncul ketika Bumi masih primitif? Bagaimana satu spesies dapat berubah menjadi spesies lain? Adakah bukti dalam catatan fosil bahwa makhluk hidup memang melalui proses evolusi? Hasil penelitian selama abad ke-20 menghasilkan kesimpulan bahwa teori evolusi tidak dapat menjelaskan tentang kehidupan. Tak satu pun fosil yang ditemukan yang jumlahnya lebih dari seratus juta menangkap bentuk makhluk peralihan dari hasil teori evolusi. Dengan kata lain tidak ada perubahan dari satu spesies ke spesies lain.

Menurut sains, ±7 juta tahun lalu Bumi telah dihuni makhluk-makhluk serupa ras Adam. Data-data paleontologi (ilmu kaji fosil) memperlihatkan sekitar 20 spesies makhluk serupa manusia, yaitu Sahelanthropus Tohadensis, Austroliphitecus Aferensis, Paranthropus Boisei, Homo Habilis, Homo Ergaster, Homo Erectus, Homo Heidelbergensis, Homo Neandertal, dan 12 spesies lainnya (hlm 20). Makhluk-makhluk sebelum Adam ini adalah pemakan sesama. Pertanyaanya, apakah benar kita keturunan atau hasil mutasi gen dari makhluk-makhluk di atas?

Tentu saja tidak, Haryo Sudarmojo dengan gigih menafsirkan ayat suci Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 30) dan mengawinkan dengan penemuan sains modern. Makhluk serupa ras Adam pernah muncul di Bumi sebelum ras Homo Sapiens Sapiens (Bani Adam). Mereka digolongkan sebagai “hewan” yang menyerupai ras Adam dan telah binasa saat periode glacia (zaman es).

Kaitannya dengan mekanisme penciptaan Adam, sains modern belum mampu menerjemahkannya untuk saat ini. Dengan kata lain, kehadiran Adam adalah sebuah proses penciptaan langsung dari Allah. Kesimpulan bahwa Adam diciptakan langsung tanpa melalui kelahiran adalah konsekuensi logis dari sains. Haryo Sudarmojo mengajak kita merenungi teori evolusi. Penelitian Prof. Rebecca Cann menyimpulkan bahwa 5 miliar manusia di dunia berasal dari satu orang wanita yang hidup di sekitar Afrika Timur, yang mungkin dalam Islam kita menyebutnya Hawa (hlm 73). Walaupun belum sanggup melacak keberadaan laki-lakinya (Adam), keberadaan Adam tidaklah sulit untuk diketahui periodenya.

Dari penelitian ini kita tahu bahwa sebelum Adam tidak ada makhluk seperti kita (Homo Sapiens Sapiens). Jika Adam dilahirkan, mekanisme penciptaan yang paling logis adalah harus melalui rahim makhluk sebelumnya yang mirip dengan kita yaitu Homo Neanderthal atau lainnya (hlm 77). Sekilas, silogisme ini sangat logis jika dipadukan dengan perkembangan sains mutakhir.

Melalui buku ini, Haryo Sudarmojo menampar silogisme tersebut dan menjelaskan bahwa pendapat tersebut sangat kontradiksi dengan penemuan sains mutakhir dan agama Islam. Islam mengatakan bahwa Adam diciptakan dari tanah liat tanpa proses kelahiran seperti manusia umumnya. Sains mengatkan bahwa jika Adam berasal dari makhluk sebelumnya yang mirip kita, maka telah terjadi mutanisasi gen (perubahan DNA) dalam rahim makhluk sebelumnya sehingga terjadi perubahan spesies dari Homo Neanderthal ke spesies Homo Sapiens Sapiens (hlm 77). Ini sangat kontradiksi dengan penemuan sains yang mengatakan bahwa tidak ada perubahan spesies.

Menuai Hikmah dari Perjalanan Hidup Uje

Judul Buku : Tobat Keren en Dahsyat: Perjalanan Hidup Uje Penulis : Teguh Iman Perdana
Penerbit : Noura Books Cetakan : 1, Juli 2013
Tebal : xii+170 halaman
ISBN : 978-602-7816-97-8

Kiprah ustadz Jefri Al-Buchori, atau yang biasa dipanggil Uje di medan dakwah merupakan satu fenomena ‘unik’ dalam masyarakat Indonesia. Julukannya sebagai ustadz gaul nampaknya mampu memberikan warna baru dalam dunia dakwah Islam di Indonesia. Dengan ciri khas suara yang sangat indah ketika mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan melantunkan shalawat menjadikannya idola bagi masyarakat Indonesia. Penyampaian ceramah yang sering disebutnya sharing menjadikannya semakin dekat dengan publik, utamanya kalangan muda Indonesia.

Uje merupakan da’i muda yang penuh dengan kharisma yang dicintai banyak orang, hingga masyarakat Indonesia benar-benar merasa kehilangan atas kepergiannya. Salah satu hal ‘unik’ yang menjadi pembicaraan banyak orang adalah masa lalunya yang kelam, sebelum akhirnya Uje berada dalam jalan yang penuh dengan rahmat. Uje adalah seorang champion, yang memenangkan haq di atas bathil. Kisah hidup Uje begitu sarat dengan hikmah yang sangat perlu kita jadikan tauladan dan ambil pelajaran sedalam-dalamnya.

Membaca kisah hidup Uje sebenarnya sama halnya membaca kisah hidup siapa pun ketika harus jatuh bangun menapakinya, dan bergulat antara yang haq dan bathil. Romantisme semacam ini dapat pula kita baca pada kisah-kisah orang sholeh di masa lalu. Hanya saja, kisah hidup Uje lebih memiliki keuggulan yang terasa “gue banget”, karena satu zaman dengan kita. Sosok Uje menjadi teman bagi siapa saja yang ingin kembali ke jalan Allah. Tiada kata putus asa terhadap rahmat Allah, begitu pula tiada gunanya membiarkan rasa minder menjajah perasaan kita lantara dosa-dosa yang mungkin telah melebihi anak gunung. Seperti yang sudah disinggung, masa lalu Uje sangat kelam. Di puncak keterjeratannya dalam narkoba, Uje pernah mengalami gejala paranoid, yaitu gejala saat seseorang ketakutan dan merasa dunia berniat mencelakakan dirinya. Padahal, sebetulnya Uje terlahir dari keluarga yang taat beragama (hlm 12-13).

Begitu pula, masa remaja Uje merupakan periode kelam dalam hidupnya. Di usianya yang menginjak 15 tahun, dia justru lebih suka bergaul dengan pemuda berusia 20 tahunan. Pacaran pun dengan cewek yang lebih tua, pindah sekolah dari satu SMA ke SMA lain. Uje juga lebih suka datang ke diskotek untuk dugem dan nge-dance. Bahkan Uje benar-benar menjadi dancer yang kerjaannya berpetualang dari satu diskotek ke diskotek lainnya (hlm 22-23). Peran orang-orang terdekat di dalam mengubah hidup seseorang ditunjukkan oleh sosok ibunda Uje yang tiada hentinya mendoakannya dan mengajak pada jalan yang benar. Berkat ketegaran ibundanya, di saat-saat yang terhitung kritis bagi keselamatan iman Uje, muncul pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka, mimpinya melahirhkan kesadaran yang amat mendalam bagi Uje untuk bertaubat, hingga akhirnya Uje pergi umrah bersama ibundanya (hlm 36-37).

Perjalanan taubat Uje bukanlah tanpa hambatan, bahkan sepulang umrah dia kembali lagi terjerat dalam lembah kemaksiatan. Godaan maksiat begitu kuat terhadapnya hingga Uje ditahan di kantor polisi. Cobaan yang begitu besar menimpanya ketika berniat untuk bertaubat tidak lantas membuatnya putus asa mengejar hidayah Allah, hingga akhirnya Uje berhasil menampakkan perjuangannya sebagai pemenang melawan kebathilan. Ada hal yang menarik ketika kita melihat bagaimana masa awal Uje menapaki jalan dakwah. Begitu banyak orang yang mencibir dan meragukannya. Akan tetapi, semua itu justru membuat Uje merasa tercambuk bahwa taubatnya benar-benar dia tujukan karena Allah.

Perjalanan hidup Uje menunjukkan bahwa dalam segala hal sesungguhnya kita sangat memerlukan pertolongan Allah. Pertolongan terhadap Uje terwujud dari dukungan orang-orang terdekatnya yang luar biasa. Bagaimana ibunda Uje, Hj. Tatu Mulyana dan istrinya, Pipik Dian Irawati dengan segala kegigihan, kesabaran, dan ketegaran tiada putusnya memberikan dukungan terhadap Uje menjadi sebuah tauladan bagi kita dalam mengajak orang-orang tersayang untuk kembali pada jalan yang lurus.


Buku ini memang menyajikan masa kelam Uje, namun demikian bukanlah sekedar napak tilas atas pejalanan hidup Uje. Setiap lembar halamannya menjadi saksi bagaimana skenario Allah SWT yang indah berlaku atas diri Uje, sehingga dengan sedikit merenunginya bisa mengambil pelajaran yang sangat dalam. Kisah hidup Uje ini mengajari kita betapa berharganya taubat. Bahkan, yang lebih menakjubkan, bagaimana hidup kita menjadi lebih indah saat taubat dilakukan dengan sebenar-benarnya.