Kamis, 17 April 2014

Pengertian, Teknik, dan Faktor Ru'yatul Hilal

         
           Pada tataran praktis kehidupan masyarakat dalam penetapan awal bulan Kamariah, khususnya untuk bulan-bulan isbadah seperti Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah sering dijumpai perbedaan, baik antara organisasi masyarakat, pemerintah dengan organisasi masyarakat, bahkan antar negara. Perbedaan pelaksanaan awal bulan dari ketiga bulan tersebut selalu berulang walau tidak dalam waktu yang periodik.
Bagi sekelompok ummat, awal bulan Kamariah wajib ditentukan dengan ru’yah, artinya ru’yah terhadap hilal awal bulan. Untuk menentukan awal  bulan berikutnya, ru’yah dilakukan saat setelah akhir hari ke-29  bulan tersebut. Jika berhasil melihat Bulan sabit, maka malam itu dan esok harinya dimulailah awal bulan berikutnya. Jika tidak berhasil atau hilal terhalang oleh awan atau selainnya, maka hitungan hari bulan tersebut digenapkan 30 hari.
Secara harfiah, ru’yah berarti melihat. Arti yang paling umum adalah melihat dengan mata kepala. Sedangkan ru’yah al-hilal berarti melihat atau mengamati hilal pada saat Matahari terbenam menjelang awal bulan Kamariah dengan mata atau alat bantu seperti teropong. Dalam ilmu Astronomi, ru’yah dikenal dengan observasi. Sebagai sebuah metode penentuan awal bulan Kamariah, kelompok pendukung ru’yah berdasar pada beberapa hadits Nabi saw, diantaranya:

حدثنا يحيى بن بكير قال حدثنى الليث عن عقيل عن ابن شهاب قال أخبرنى سالم بن عبد الله بن عمر أن ابن عمر رضي الله عنهما قال : سمعت رسول الله ص م يقول : إذا رأيتموه فصومو وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فاقدروله (رواه البخارى)

أخبرنى قتيبة قال حدثنا أبو الألوص عن سماك عن عكرمة عن ابن عباس قال : قال رسول الله ص م : صوموا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين (رواه البخارى)

Menurut Syihabuddin al-Qalyubi, hadits-hadits hisab ru’yah di atas mengandung sepuluh interpretasi yang beragam, diantaranya:
1.      Perintah puasa berlaku atas semua orang yang melihat hilal dan tidak berlaku atas semua orang yang tidak melihatnya.
2.      Melihat disini melalui mata.
3.      Melihat secara ilmu bersifat mutawatir dan merupakan berita dari orang yang adil.
4.      Nash tersebut mengandung juga makna dzan.
5.  Ada tuntutan puasa secara kontinyu jika terhalang pandangan atas hulal manakala sudah ada kepastian hilal sudah dapat dilihat.
6.   Ada kemungkinan hilal sudah wujud sehingga wajib puasa, walaupun menurut ahli Astronomi belum ada kemungkinan hilal dapat dilihat.
7.      Perintah hadis tersebut ditujukan kepada kaum Muslim secara menyeluruh. Namun pelaksanaan ru’yah tidak diwajibkan kepada seluruhnya bahkan hanya perseorangan.
8.      Hadits ini mengandung makna berbuka puasa.
9.      Ru’yah itu berlaku untuk hilal Ramadhan dalam kewajiban puasa, bukan untuk iftharnya.
10.  Yang menutup pandangan ditentukan hanya oleh mendung, bukan selainnya.

Ru’yah hilal untuk mengetahui pergantian bulan, khususnya mengetahui awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dapat digunakan dengan menggunakan teropong, theodolit, gawang lokasi, hingga rubu’ mujayyab.
Dalam melakukan ru’yah, baik menggunakan teropong dan sebagainya, secara teknis di lapangan ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan diantaranya sebagai berikut:
a.   Membentuk tim ru’yah yang terdiri dari unsur pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota), Ormas Islam, tokoh agama, dan unsur masyarakat lainnya.
b.  Menentukan lokasi ru’yah, apakah di dataran tinggi/perbukitan, atau di pinggir pantai. Yang penting bahwa lokasi ru’yah merupakan tempat yang bebas halangan untuk memandang ke arah Barat dalam rangka melihat hilal.
c.    Melakukan hisab awal bulan untuk menetahui waktu dan posisi Matahari terbenam, posisi dan ketinggian hilal pada saat Matahari terbenam, dan lama hilal di atas ufuk.
d.  Memasang alat bantu ru’yah yang diperlukan sesuai posisi hilal yang akan diamati dalam perhitungan.
e.   Menyusun laporan ru’yah dan menyampaikan kepada pemerintah (Kementerian Agama) untuk selanjutnya diteruskan kepada pemerintah pusat. 

Ada beberapa faktor atau masalah didalam melakukan observasi Bulan bagi penentuan awal bulan Kamariah, yaitu:
1. Kecermatan Perukyah
Faktor pertama adalah faktor dari sisi manusia. Pengetahuan dan pemahaman hilal yang baik, tingkat pengamatan yang baik, serta kepekaan mata orang yang melihat hilal, bahkan faktor psikologis peru’yah akan menjadi faktor keberhasilan hilal dapat terlihat.
Hasil pengamatan hilal sangat terpengaruh oleh kecermatan peru’yah. Semakin cermat peru’yah maka tingkat kesalahan yang terjadi semakin kecil. Begitu pula sebaliknya, ketidakcermatan seorang peru’yah akan semakin memperbesar tingkat kesalahan hasil pengamatan.
Penggunaan program dan software ilmu Falak juga memerlukan kecermatan, terutama dalam memasukkan data-data astronomis dalam proses perhitungan awal bulan Kamariah, begitu pula data-data astronomis tempat pelaksanaan ru’yah.

2. Tempat rukyah dan Iklim (Cuaca dan Atmosfer)
Pada dasarnya, tempat yang baik untuk ru’yah adalah tempat yang memungkinkan pengamat dapat mengadakan observasi di sekitar tempat terbenamnya Matahari. Pandangan pada arah itu sebaiknya tidak terganggu, sehingga ufuf ataau horizon akan terlihat lurus pada daerah yang mempunyai azimuth 240s/d 300o. Daerah itu diperlukan terutama jika observasi Bulan (hilal) dilakukan sepanjang musim dengan mempertimbangkan pergeseran Matahari dan Bulan dari waktu ke waktu.
Adanya awan tebal di ufuk Barat akan sangat menyulitkan terlihatnya hilal. Kesulitan ini relatif akan semakin besar terjadi di Indonesia yang berada pada wilayah tropis dengan curah hujan yang tinggi. Faktor atmosfir memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilan ru’yah karena atmosfir Bumi akan memantulkan cahaya Matahari yang menimpanya.
Setidaknya, bersihnya langit dari awan, kabut, ataupun cahaya kota di sekitar arah terbenamnya Matahari merupakan persyaratan yang sangat penting untuk dapat melakukan observasi pada suatu saat tertentu.

3. Penunjuk Waktu
Pada dasarnya semua benda langit mempunyai pergerakan, baik pergerakan sendiri maupun pergerakan semu. Oleh sebab itu kalau kita menyatakan letak/posisi benda langit, itu berarti kita menyatakan posisi benda tersebut pada waktu tertentu. Dengan demikian, seorang pengamat yang baik harus memiliki penunjuk waktu yang baik pula. Untuk menyesuaikan jam pribadi, kita bisa menepatkan jam dari RRI. Selain itu, kita bisa juga memakai jam pada GPS.

4. Cahaya Bulan Sabit (termasuk dalam                     Visibilitas Hilal)
Bulan, benda langit yang akan diamati adalah sebuah benda yang tidak memiliki cahaya sendiri. Cahaya yang terlihat oleh kita adalah bagian Bulan yang tersinari oleh Matahari.
Kondisi iluminasi Bulan sebagai prasyarat terlihatnya hilal pertama kali diperoleh Danjon yang berdasakan ekstrapolasi data pengamatan. Pada tahun 1931, Andre Danjon sewaktu menjadi direktur Observatorium Strasbourg merasa tertarik untuk menyelidiki lengkungan sabit Bulan. Pada tanggal 13 Agustus dia melihat Bulan yang berumur 16 jam 12 menit setelah konjungsi. Dengan teropong refraktor yang bergaris tengah 3 inci pada perbesaran 25 kali, sabitnya terlihat kurang dari 75o s/d 80o dari ujung ke ujung. Pengamatan dan catatan lain juga menunjukkan persoalan yang sama, bahwa berkurangnya sabit itu semakin kecil sementara jarak sudut Bulan – Matahari bertambah besar.
Dengan mengumpulkan sekitar 50 potret Bulan sabit yang berbeda-beda, Danjon mendapatkan besarnya sudut batas visibilitas, yaitu 7o. Beberapa peneliti kemudian berusaha untuk menggabungkan berbagai variabel dalam menentukan kriteria visibilitas hilal, seperti tinggi hilal, umur hilal, dan beda azimuth.

Dengan adanya berbagai faktor yang kedudukannya sangat vital ketika pelaksanaan ru’yatul hilal berlangsung, sudah seharusnya menjadi pertimbangan kita bersama bahwa penerimaan hasil ru’yah setidaknya mencapai standar yang ilmiah. Dengan kata lain bahwa ru’yah pun harus memenuhi kriteria astronomis yang berkembang saat ini.
Secara umum, keterbatasan peru’yah dalam melakukan observasi mengharuskan kita untuk lebih hati-hati dalam menerima hasil ru’yah. Faktor geografis atau tempat ru’yah perlu dipertimbangkan dalam menerima persaksian hilal. Oleh karena itu, usaha sertifikasi tempat ru’yah mempunyai peranan yang penting dalam meminimalisir kesalahan hasil ru’yah.
Usulan untuk menjadikan perkembangan teknologi mutakhir sebagai salah satu alternatif pemecahannya perlu dijadikan ‘tema utama’ dalam pengembangan keilmuan kita. Farid Ruskanda dan Zalbrawi Soejoeti misalnya mengusulkan beberapa teknologi alternatif, seperti sistem teleskop cahaya (visible light), teleskop infra merah termal (radiasi panas). Keduanya disertai dengan penyempurnaan citra hilal dengan menggunakan komputer, dan dikombinasikan dengan perekaman video kamera televisi untuk keperluan penayangan langsung (live streaming). 


RUJUKAN:

A. Jamil, Ilmu Falak (Teori dan Aplikasi)I, Jakarta: Amzah, 2011.

Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Matan al-Bukhari bi Hasyiyati as Sanadi, Beirut: Dar al-Kitab al-Islam, tt.

Azhari,  Susiknan, Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
Badan Hisab & Rukyat Dep. Agama, Almanak Hisab Rukyat, Jakarta: Proyek Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam, 1981.

Izzuddin, Ahmad, Fiqih Hisab Rukyah, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007.
Khazin, Muhyiddin, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Buana Pustaka, 2008.

Nashirudin, Muh., Kalender hijriah Universal, Semarang: EL-WAFA, 2013.
 




Sabtu, 12 April 2014

Sahabat HATI




Hai malam…apa kabar? Kutahu kamu sedang bersedih. Atau mungkin lebih tepatnya gundah gulana. 12 April langit Semarang mendung. Gerimis sempat membasahi aspal tempat roda dua kami berjalan. Ah,,mungkin sudah nasibnya atau mungkin lebih tepatnya itu adalah skenario Allah.
Malam ini langit tak secerah yang kuharapkan. Gampang saja, aku mengharapkan gugusan bintang bertebaran di langit malam Semarang karena ada perlunya. Singkat kata, aku tadi habis mengikuti agenda sebuah komunitas pecinta semesta di Semarang. Namun sayang, mendung. Cuma beberapa saat saja aku bisa meneropong Bulan yang hampir purnama dengan menggunakan teleskop Celestron 80 EQ. tak Cuma itu si,, cukup puas karena bisa mengamati planet Mars. Yah, aku liat dia berwajah merah. Mungkin Mars lagi malu wkwkwkwk

Masalahnya buka itu kawan, entah kenapa hatiku gundah. Seolah merindukan seseorang. Apa mungkin aku sedang naksir orang? yah, mungkin saja. Dia adalah seorang koordinator  komunitas kami. Hahah..mungkin saja itu salah satu hal yang gila. gak level lah dia sama aku. Tapi bagiku cuekk aja ah, wkwkwk
Gundah gulana alias galau cetar membahana. Itu adalah kata-kata temanku hhe..yang sekarang ini sedang saya rasakan. Siapa yang aku risaukan? Hatiku sedang memberontakkah? Apa hatiku sedang berpikir ulang tentang ‘majikannya’?? entahlah, aku tak tau kawan, seolah aku merindukan seseorang. Yang jadi masalahnya adalah aku baru saja ketemu ‘tuh’ orang. Sekejap saja memang. Dan mungkin karena saking singkatnya hatiku memberontak. Begitukah??? Entahlah.. aku hanya bisa ngeles pada diriku sendiri. Aku sedang merindukan sosok sahabat yang dulu pernah ada di hati. Sayangnya aku telah mengecewakannya. Memang si..dia tak menunjukkan kekecewaannya. Hanya saja aku akan merasa nggak enak ketika menyapanya, sedang aku dalam keadaan ‘butuh’ untuk menyapanya.

Doaku, semoga dia baik-baik saja di kota Pahlawan. Dan tentu kami akan bertemu kembali. Seperti dahulu, ketika aku rela buang duit, buang tenaga, buang kepercayaan hanya demi menepati janji untuk ketemu dengannya. Di Surabaya. See u sahabat..kamu tetap di sini à HATI.

Jumat, 11 April 2014

Karena Saya Harus Menjadi Lebih Baik

Hai kawan, saya pingin keluarin unek-unek nih..hhe
Biasa lah nyampah. Buat kamu yang gak suka sifat alay-lebay-kemayu dan saudara-saudara mereka mending gak usah dibaca postingan ini. terimakasih J

Begini . . . kok rasanya saya pingin nulis rasa syukur yang ada di hati. Entahlah, gak jelas banget maksudnya. Wkwkwkwk
Allah, Tuhanku itu Maha Penyayang sama aku. Tau kenapa???? Sebenernya tergantung kita sih bagaimana menyikapi hidup ini. Tiap orang pasti ada masalah kan??? Masing-masing kita pasti punya beban. Hah..dasar emang kita aja yang bego alias tolol jika ngeluuuuuh terus. Pernah gak, sekali dua kali kita mencoba berpikir positif?
Sebenarnya tiada yang sulit buat kita ngadepin hidup ini. Saat merasa dunia gelap gulita alias kita sulit buat tersenyum, cobalah tersenyum. Gitu aja sih caranya biar kamu bisa tersenyum manis kembali, kayak saya J J J
Saya pernah mengalami, beberapa bulan saya seolah terpuruk. Tertikam oleh beban dunia. Semua itu karena pada dasarnya saya nggak suka dikasih beban. Saya lebih suka jadi follower daripada leader. Biarlah, orang berkata apa tentang masalah kepemimpinan saya. Yang penting bagi saya adalah bahagia. Bahagia bagi seorang introvet sepertiku adalah ketika sifat introvert ku terkalahlan. Hahahah..emang gak enak banget jadi orang introvert L L

Okkey..kembali ke awal, saya terpuruk, tertikam, dan terkekang hanya karena saya pingin dunia. Sebut saja karena terbayang oleh kehidupan yang lebih baek, alias bisa hura-hura. Hho (padahal saya itu anti hura-hura lhooh). Hura-hura yang saya maksud adalah ketika kamu meletakkan urusan dunia di atas akheratmu. Wuisshh saya sedikit gaya nggak papa kan..hhah!!

Begini kawan, hubungannya sama potive thinking tentang hura-hura yang saya maksud adalah bahwaaaa ketika kita sekali dua kali terjebak dalam kubangan setan, yah pastilah sulit banget untuk tobat, alias berhenti total. Misalnya gini, dahulu saya nggak pernah boloz sekolah. Sampe kuliah pun gak pernah absen satu semester. Rajin kan saya J J. Namun…pernah, ketika itu adalah hari senin..saya boloz kuliah karena sesuatu yang tak penting. Bahkan saya menyebutnya hal yang brengsek. Yah..nurutin kemauan cewek saya ketika itu (tetapi sekarang udah putuz kok). Rasanya itu nyeseeeeel banget, siapa yang mau saya salahkan?? Masak cewek saya ketika itu? Jelas itu salah saya sendiri. Seharusnya saya ingat akan amanah orangtua dan keluarga di rumah buat kuliah, hikz L L

Sekali itu saya boloz kuliah hanya karena alasan yang brengsek, selanjutya ya brengsek lagi. Saya pernah kalo gak salah 2 atau 3 kali yah boloz kuliah setelah itu. Memang, hati nurani memberontak terhadap apa yang saya lakuin. Setidaknya dia bilang begini kawan, “Dasar brengsek, lanjutin terus kenakalanmu sampai suatu saat orangtua mu menangis karenamu!”
Huh,, bener2 nuraniku menangis. Sayangnya tidak buat mata sipitku ini. Dia hanya tertawa lirih menikmati kenakalanku.

Dan ini itu yang saya alami, berat banget bangun dari kubangan. Tapiiii..nurani saya masih diberi hidayah oleh Allah, yah Tuhanku yang Maha Penyayang. Nuraniku selalu berkata, suatu saat nanti kita pasti bisa hentikan kebrengsekan ini. Itu juga yang menyebabkan saya selalu berpikir positif. Berpikir positif bagiku adalah menyambungkan hati dan pikiran pada kekuasaan Allah. Yakinlah kawan, bahwa Allah selalu menghendaki kebaikan bagi kita. Itu yang selalu saya tanamkan pada diriku.

Dan sekarang, saya bisa bersujud. Bersyukur atas hidayah serta kekuatan yang diberikannya kepadaku. Saya bahagia, mendapatkan kesempatan buat memperbaiki diri.
Allahu ya Kariiim…tolong bantu saya menjaga hati, memperkuat imanku hanya kepada MU. Sampaikan salamku pada orangtua. Saya mohon maaf telah mengecewakan MU dan juga keluarga di rumah. Ampuni saya, karena saya harus menjadi lebih baik, demi diriku senidiri, keluarga, bangsa, agama, dan tentunya pendamping sholehah yang saya impikan J J. Amiiiiin…


Dwi temenku

Kaptenz Dwi Lestari. Namanya gaol yah..dia adalah temanku. Bukan sekampus sama saya, tetapi masih satu kota. Adek tingkat, persis di bawah saya. Koordinator sebuah komunitas pecinta semesta di Semarang. Kayaknya rumahnya Pekalongan (soalnya saya belum paham betul tentang dia hhe).

Kagum sekali dengan semangat cewek ini. Kecintaannya kepada Astronomi sangat besar, sampe-sampe saya ngiri. Masalahnya begini, dia kuliahnya ngambil jurusan Fisika murni, sedangkan saya Ilmu Falak, alias Astronomi Islam. Seharusnya saya yang lebih besar ghirohnya terhadap Astronomi. Sayangnya bukan begitu faktanya. Wkwkwkwk walau sebenarnya saya juga sangat mencintai ilmu semesta. Karena bagiku pribadi keindahan serta rahasia di balik semesta bisa mendekatkan kita terhadap sang Khaliq. Selain itu, belajar tentang semesta sangat menarik karena imajinasi kita melayang-layang ke luar angkasa. Yuhuuuuuuuuuii… jadi inget ketika naek elang dulu J J

Jadi ceritanya begini kawan, dulu ketika kecil aku sering bermaen, diantarnya naek elang, yah terbang ke angkasa. Menembus awan putih yang bergumul. Aku duduk dipunggung elang itu sambil ketawa riang menyaksikan pemandangan yang begitu indah di jagat raya ini. Terkadang elang itu hendak menabrak bukit. Tapi, dia terlalu piawai hanya untuk berputar-putar di angkasa. Ya…gak jadi nabrak deh… malah tambah seru, dia belok diantara bukit-bukit yang terjal itu. Aku hamper jatuh, tapi gak pernah jatuh. Karena itu hanyalah imajinasiku ketika aku masih kecil. Sekitar dua belas tahun yang lalu. Hehehehe…..

Okkey,,kita kembali ke temaku ini. Saya takut kehilangan orang seperti dia. Hemm..masih trauma sih ketika saya ditinggal teman wkwkwk. Dulu ketika kelas 1 Aliyah saya dekat dengan seorang santri RMA, Burhan namanya. Saking deketnya saya mendapat pelajaran pribadi darinya. Dia tujuh tahun lebih tua dariku, tapi aku sangat nyaman bersamanya. Karena bersamanya aku menjadi lebih baek. Aku tau tentang maksud Aqa’id, ilmu yg bermanfaat, cerita keislaman, mkhorijul huruf. Yang semua itu aku selalu gk pede ketika beradu argmen dengan orang laen. Karena jujur,, 5 tahun belajar di pesantren sebelum itu aku hanya tau tentang fiqh dan sedikit nahwu hhe..

Nah, puncaknya pas habis lebaran tuh..aku masih kelas 1 Aliyah. Dia boyong dari RMA tanpa aku tahu. Yah,,walaupun saya masih unyu saat itu terasa banget kehilangan seorang teman yang sudah kuanggap sebagai sahabat serta guru. Saya aja nangis, hhaahaa…yah gak ada yang tau sih ketika itu. Salam ta’dzim buat panjenengan mas Burhan, semoga berkah ilmu kita. Amiiin . . . J J
Balik lagi sama Dwi yah, harapanku dia bisa menjadi teman baik buat aku. Karena semenjak mengenalnya sedikit lebih jauh, saya jadi terpacu mempelajari Falak. Semoga semuanya akan baek-baek kawan..


Berpikirlah

Kawan, bukalah pikiranmu. Lihatlah sekelilingmu. Lihatlah katak itu. Lihat, lihat, dan lihatlah katak dalam tempurung.
Sungguh sayangi dirimu kawan..tak usahlah kau menangis. Meratapi kebodohanmu. Semua tak akan berubah secara instan. Belajar belajar dan belajarlah. Belajarlah yang kamu suka. Asal masih dalam koridor halal agama kita. Tak usahlah kau pikir jadi apa kau nanti. Pinter pinter dan pinterkan dirimu sendiri, suatu saat kau akan memetik buat kepinteran. Manis manis dan manis sekali buah itu. Aku pernah merasakannya. Hanya saja aku lupa bagaimana rasanya buah itu.

Kawan., agamamu menyuruh berpikir. Yah, berpikir tentang ciptaan NYA. bukankah kau suka memikirkan sesuatu?? 

Pandai Bersyukur

Kawan, hidup dalam keterbatasan itu menjengkelkan. Bawaannya pinigin teriak BRENGSEK!!!
Meraih impian ataupun cita-cita tak hanya modal otak. Kita butuh dana, alias duit. Mungkin itu yang kurasakan. Pemikiran sempit dari seorang introvet.
Hanya satu dua kali saya berpikir positif, selebihnya busyeeeett. Ngeluuuh terus. Padahal sesungguhnya saya tahu jika ngeluh bukan solusi. Ngeluh hanya akan memperburuk keadaan. Setidaknya semua yang sedang kita alami tak akan berubah lebih baek.
Hemmm,, atau hanya menunggu?? Aku pikir menunggu masalah selesai sama aja tak akan mengurangi masalah. Setidaknya otakmu akan penuh dengan pikiran negatip. Misalnya saja, minder.
Ya Allah..maafkanlah saya. Bimbing hamba menjadi sosok yang pandai bersyukur.

Selasa, 01 April 2014

Sudut Waktu Matahari

PENDAHULUAN
Hisab yang dimaksud dalam dalam ilmu falak adalah perhitungan gerakan benda-benda langit untuk mengetahui kedudukannya pada suatu saat yang diinginkan. Sehingga apabila hisab dikhususkan penggunaannya pada hisab awal bulan maka yang dimaksudkan ialah menentukan kedudukan Matahari dan Bulan. Sehingga dapat diketahui kedudukan Matahari dan Bulan tersebut pada bola langit disaat-saat tertentu.

Hisab awal bulan tiada lain adalah menetukan kedudukan Hilal pada saat terbenamnya Matahari yang diukur dengan derajat. Penentuan awal bulan Kamariah penting artinya bagi umat Islam. Selain untuk menentukan hari-hari besar, juga yang lebih penting adalah untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan dan Dzulhijjah. Hal ini dikarenakan menyangkut masalah wajib ‘ain bagi setiap umat Islam, yaitu kewajiban menjalankan ibadah puasa dan haji.

Sudah semestinya apabila sebelum melakukan pengamatan hilal sudah diketahui letak hilal yang akan dirukyah pada saat terbenamnya Matahari. Letak Bulan dinyatakan oleh perbedaan ketinggiannya dengan Matahari dan selisih azimut di antara keduanya.

Dalam hisab awal bulan Kamariah ada dua macam, yaitu hisab ‘urfi dan hisab haqiqi. Hisab ‘urfi adalah hisab dengan menggunakan umur rata-rata Bulan (29-30) sebagai standar. Sedangkan hisab awal bulan haqiqi adalah perhitungan astronomik yang dimaksudkan untuk mengetahui keadaan Bulan pada hari atau tanggal ke 29 setiap bulan. Keadaan Bulan tersebut setidaknya berkenaan dengan saat ijtima’ (konjungsi) nya Matahari, ketinggian (h) nya pada saat Matahari terbenam, dan beda azimuthnya dengan Matahari pada saat terbenam. Perhitungan tersebut kemudian dipakai sebagai acuan dalam menentukan jatuhnya awaln bulan Kamariah dalam kalender Hijriah.[1]

PEMBAHASAN
Semua benda langit pada dasarnya mempunyai pergerakan, baik pergerakannya sendiri maupun pergerakan semu. Dengan demikian, ketika kita menyatakan letak/posisi benda langit, berarti kita menyatakan letak itu pada waktu tertentu.

Sudut waktu merupakan sudut yang dibentuk oleh meridian pengamat dengan meridian benda langit yang bersangkutan.[2] Sudut waktu Matahari adalah busur sepanjang lingkaran harian Matahari dihitung dari titik kulminasi atas sampai Matahari berada. Atau sudut pada kutub langit selatan atau utara yang diapit oleh garis meridian dan lingkaran deklinasi yang melewati Matahari.[3] Jadi sudut waktu Matahari adalah busur sepanjang lingkaran harian Matahari dihitung dari titik kulminasi atas sampai matahari berada.

Dalam istilah kitab falak klasik, sudut waktu disubut fadl-lud Da’ir dan dilambangkan dengan t0. Harga atau nilai sudut waktu adalah 00 sampai 1800. Nilai sudut waktu 00 adalah ketika matahari berada di titik kulminasi atas atau tepat di meridian langit. Sedangkan nilai sudut waktu 1800 adalah ketika Matahari berada di titik kulminasi bawah.

Apabila Matahari berada di sebelah Barat meridian atau di belahan langit sebelah Barat maka sudut waktu bertanda positif (+). Dan apabila Matahari berada di sebelah Timur atau di belahan langit Timur, maka sudut waktu bertanda negatif (-).

Harga sudut waktu Matahari dapat dihitung dengan rumus:[4]

Cos t= -tan φ tan δ+ sin h0 : cos φ : cos δ0
 
 




t0          = Sudut waktu Matahari
φ          = Lintang tempat
δ0         = Deklinasi Matahari
h0         = Tinggi Matahari

Sudut waktu merupakan salah satu sistem koordinat bola langit. Dalam sistem sudut waktu, bidang referensi utama adalah ekuator pengamat. Sedangkan referensi kedua adalah lingkaran waktu yang didalamnya terdapat zenith (meridian langit pengamat).[5]





Bulan, benda langit yang akan diamati adalah sebuah benda gelap yang tidak memiliki cahaya sendiri. Yang biasa kita lihat adalah bagian Bulan yang disinari Matahari. Pada saat tertentu, cahaya Bumi (yang merupakan pantulan cahaya Matahari) dapat pula terlihat di Bulan.

Pada saat awal Bulan, pengamatan dilakukan (rukyatul hilal) pada waktu Matahari terbenam. Keadaan langit pada waktu itu mulai berubah. Pada siang hari, Matahari terang, sehingga langitpun terang. Terangnya langit ini disebabkan oleh terangnya cahaya Matahari yang disebarkan oleh udara Bumi. Ketika Matahari terbenam, terangnya langit berkurang, akan tetapi cahaya senja masih terlihat sampai waktu Isya’ tiba. Pada saat Matahari baru saja terbenam, cahaya langit senja masih cukup terang yang menyulitkan kita untuk melihat hilal. Hal ini karena Bulan masih terlalu tipis, sehingga cahayanya hampir tidak jauh beda dengan terangnya langit senja yang cerah tanpa awan.[6

Dengan mengetahui saat Matahari terbenam maka kita akan mengetahui kapan kita seharusnya melakukan rukyat, karena merukyat Hilal yang dapat kita lakukan hanya beberapa menit. Dengan mengetahui besarnya sudut waktu Matahari kita akan mengetahu saat Matahari terbenam.
Saat Matahari terbenam =
t0 : 15 +12 – e + KWD (Koreksi Waktu Daerah)[7]





[1] Ahmad Musonnif, Ilmu Falak : Metode Hisab Awal Waktu Shalat, Arah Kiblat, Hisab ‘Urfi dan Hisab Hakiki Awal Bulan, Yogyakarta: Teras, cet. 1, 2011, hal. 134-135
[2] Uum Jumsa, Ilmu Falak: Panduan Praktis Menentukan Hilal, Bandung: Humaniora, cet. 2, 2009, hal. 28
[3] Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak: Dalam Teori dan Praktik, Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004, hal. 81
[4] Ibid
[5] K. J. Vilianueva, Pengantar ke dalam Astronomi Geodesi, Bandung: Departemen Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITB, 1978, hal. 12-13
[6] Departemen Agama, Almanak Hisab Rukyat, Jakarta, 1981, hal. 54
[7] Ahmad Izzudin, Ilmu Falak Praktis: Metode Hisab Rukyah Praktis dan Solusi Permasalahannya, Semarang: Komala Grafika, 2006, hal. 73